rahayunenden











{Juli 24, 2012}   perubahan ethanol dan energi

1.Materi

Materi adalah apa saja yang mempunyai massa dan menempati suatu ruang,baik yang berbentuk padat, cair, dan gas. Semua materi dapat dipecahmenjadi bagian yang sangat kecil yang disebut molekul. Molekul masihmemiliki sifat-sifat materi, misalnya molekul gula adalah bagian terkecil darigula yang masih mempunyai sifat-sifat gula.Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sebuah molekul dapat dipecah lagimenjadi bagian lebih kecil yang disebut atom. Molekul gula tebu dapatdipecah menjadi 12 atom karbon, 22 atom hidrogen, dan 11 atom oksigen.Atom-atom tersebut dipersatukan sedemikian rupa sehingga menjadi bentukmolekul gula. Akan tetapi, bila atom-atom karbon, hidrogen, dan oksigentesebut dipersatukan kembali dengan susunan yang berbeda akan dapatmembentuk molekul materi yang berbeda, misalnya alkohol atau zat pati.Dari contoh-contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa atom-atomdisebut pula unsur dasar yang menyusun suatu materi.Semua materi mempunyai sifat sendiri-sendiri. Apabila terjadi suatuperubahan karena sesuatu, sifatnya akan berubah dan sifat itu menjadi ciribagi materi tersebut. Perubahan suatu materi dibedakan atas dua kelompok,yaitu :

a.Perubahan materi secara fisika adalah perubahan materi yang tidakdisertai terjadinya materi jenis baru, misalnya sebagai berikut.

– Penguapan air: kalau air dipanaskan akan berubah menjadi uap.

– Pembekuan air: air didinginkan pada 0 c menjadi es.

– Gula dilarutkan dalam air: tidak mengubah warna tetapi manis.

Jadi, perubahan materi secara fisika termasuk perubahan tingkat wujudmateri, seperti menguap, membeku, melarut dan menghablur.b.Perubahan materi secara kimia adalah perubahan yang menghasilkansatu atau beberapa materi yang jenisnya lain, misalnya sebagai berikut.

Besi berkarat: sepotong besi yang dibiarkan dalam keadaanlembab dan karena reaksi udara beberapa waktu akan timbul karatyang merupakan materi baru hasil reaksi.

Pembakaran : sepotong kayu dinyalakan dan terbakarmenghasilkan abu.

Magnesium ditaruh pada nyala api: akan tampak kabut putih dengannyala menyilaukan, setelah dingin idak tampak potongan magnesiumtersebut.Atom adalah partikel yang paling kecil dari suatu unsur kimia. Partikeldidefinisikan sebagai atom bila masih memiliki sifat-sifat atom tersebut.Menurut
John Dalton
(1766 – 1844), seorang ahli kimia Prancis,mengajukan hipotesis tentang substansi dasar materi. Ternyata prinsiphipotesis tersebut dapat bertahan, sehingga dikenal sebagai Teori Dalton.Atom menurut Dalton tersusun sebagai berikut :1)Atom merupakan partikel-partikel terkecil dari unsur yang tidak dapatdipecahkan lagi.
2) Atom-atom dari unsur yang sama mempunyai sifat sama, sebaliknyaatom dari unsur yang berbeda mempunyai sifat yang berbeda pula.

3)Kumpulan atom sejenis dapat membentuk unsur, sedang kumpulanatom berlainan jenis akan membentuk senyawa.4)Atom-atom yang saling mengikat secara kimiawi akan membentukmolekul.Kemajuan pesat di dunia ilmu pengetahuan alam dalam abad XXmenimbulkan perbedaan pendapat tentang konsep teori atom dan molekul.Saat ini batasan untuk atom adalah partikel yang terkecil dari suatu unsuryang dapat mengambil bagian dalam perubahan-perubahan kimia.

Rutherford
(1817 – 1937) mengemukakan teori tentang struktur atomdan mengatakan bahwa :
Sebuah atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif dan dibungkusoleh kulit atom yang mengandung elektron-elekron yang bermuatan negatif. Atom tidak akan bermuatan listrik (menjadi netral) bila jumlah muatannegatif sama dengan jumlah muatan positif.

J. Chadwick
(1891 – 1994) menemukan bahwa partikel jenis ketiga initidak bermuatan listrik dan mempunyai massa tepat sama dengan massaproton. Partikel ini disebut neutron yang bersama-sama dengan proton didalam nukleus.Berat proton dibandingkan dengan berat electron adalah 1840 kali lebihbesar. Massa atom unsur-unsur lain tergantung pada massa inti atom unsurtersebut dan hal ini tergantung pada massa neutronnya. Misalkan, massaatom oksigen adalah 16, berarti pada oksigen terdapat 8 proton dan 8neutron di dalam inti atomnya.

Niels Bohr

(1885 – 1962) mengajukan teori yang menyatakan bahwaatom merupakan system matahari yang terkecil (miniatur). Inti atom sebagaimatahari dan elektron-elektron sebagai planet yang beredar mengelilingiinti. Elektron-elektron beredar melintasi garis edar berbentuk elips dengankecepatan cahaya. Niels Bohr menemukan bahwa lokasi-lokasi electrontertentu dan terbatas. Electron dapat terlempar ke luar orbit dan menjauhiintinya, kadang-kadang malah memasuki orbit lebih dekat ke intimempunyai energi lebih kecil daripada electron yang jauh dari inti. Untukmemindahkan electron dari lintasan yang dekat ke inti ke lintasan yang lebih jauh dari inti diperlukan tambahan energi. Sebaliknya, electron dari lintasanluar yang jauh ke lintasan dalam yang dekat inti melepaskan energi. Energiyang dilepas maupun ditambahkan merupakan jumlah tertentu yang disebutkuantum.Neils Bohr gagal mengadakan percobaan dengan atom lain kecualihydrogen, tetapi kegagalan tersebut diperbaiki oleh Schrodinger sehinggateori Bohr dapat dimantapkan.

Kulit  Ihanya dapat diisi 2 elektron

Kulit IIhanya dapat diisi 8 elektron

Kulit IIIhanya dapat diisi 18 elektron

Kulit IVhanya dapat diisi 32 elektron

Symbol atom modern dirintis oleh Jacob Berzelius pada tahun 1813 denganmengambil singkatan dari huruf pertama nama atom yang kadang-kadangdiikuti oleh salah satu huruf berikutnya. Huruf pertama ditulis dengan huruf besar, sedang huruf berikutnya ditulis dengan huruf kecil. Sebagai contoh :
Hydrogen H

Oksigen O

Calsium C Baca entri selengkapnya »



{Juli 21, 2012}   Karbondioksida

Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume [1] walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah dengan kuat.

Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.

Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai es kering.

CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2 mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda. Baca entri selengkapnya »



{Juli 21, 2012}   Ethanol

Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua.

Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan “Et” merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).

Fermentasi gula menjadi etanol merupakan salah satu reaksi organik paling awal yang pernah dilakukan manusia. Efek dari konsumsi etanol yang memabukkan juga telah diketahui sejak dulu. Pada zaman modern, etanol yang ditujukan untuk kegunaan industri dihasilkan dari produk sampingan pengilangan minyak bumi.[1]

Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar.

Baca entri selengkapnya »



{Mei 29, 2012}   Potensiometri

Potensiometri adalah suatu cara analisis berdasarkan pengukuran bedapotensial sel dari suatu sel alektrokimia. Pada potensiometri mempelajarihubungan antara konsentrasi dengan potensial. Metode ini digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu larutan, menentukan titik akhir titrasi danmenentukan konsentrasi ion-ion tertentu dengan menggunakan elektroda selektif ion. Susunan alat pada potensiometri meliputi elektroda pembanding (referenceelectrode), elektroda indikator (indicator electrode), dan alat pengukur potensial.

➢Elektroda PembandingElektroda pembanding adalah suatu elektroda yang mempunyai hargapotensial tetap atau harga setengah selnya dapat diketahui, konstan, dan tidak peka terhadap komposisi larutan yang diselidiki. Terdapat dua jenis elektrodapembanding, yaitu :1. Elektroda pembanding primer Contoh dari elektroda jenis ini adalah elektroda hidrogen standar.Dimana elektroda ini terbuat dari platina yang dilapisi platina hitamdengan maksud agar absorpsi gas hidrogen pada permukaan elektrodadapat berlangsung sempurna, sehingga reaksinya :

H2⇔2 H+ 2e
Dapat berlangsung cepat dan reversibel. Potensial setengah sel darielektroda pembanding primer adalah nol Volt. Notasi setengah sel darielektroda hidrogen adalah :
Pt/H2(atm), H+(M) atau H+(M), H2(atm) / Pt2.
Elektroda pembanding sekuder Beberapa contoh elektroda pembanding yang sering digunakanuntuk pengukuran secara potensiometri adalah :
a)Elektroda kalomel(calomel electrode)
b) Elektroda perak-perak klorida.
➢Elektroda Indikator
Sedangkan elektroda indikator (indicator electrode) adalah elektrodayang potensialnya tergantung pada konsentrasi zat yang sedang diselidiki.Elektroda ini merupakan pasangan dari elektroda pembanding dan terbagidalam dua kelompok, yaitu :
1. Elektroda logamElektroda logam terbagi dalam empat kelompok diantaranyaelektroda jenis pertama, elektroda jenis kedua, elektroda jenis ketiga, danelektroda untuk jenis sistem redoks.
2. Elektroda membranElektroda membran digunakan untuk menunjukkan ion tertentu.
Elektroda ini biasanya disebut dengan elektroda selektif ion (ionicselective electrode, ISE). Elektroda digunakan untuk penentuan pH denganmengukur perbedaan potensial antara larutan pembanding yangkeasamannya tetap dan larutan yang dianalisis. Elektroda membran dibagimenjadi empat kelompok, yaitu :
a) Elektroda membran kacab) Elektroda membran cairanc) Elektroda padatand) Elektroda penunjuk gasDalam titrasi potensiometri titik akhir dideteksi dengan menetapkanvolume pada saat terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketikaditambahkan titran. Berbagai reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuranpotensiometri, reaksi meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion yangsesuai dengan jenis elektrodanya. Potensial diukur sesudah penambahan sedikitvolume titran secara kontinue. Salah satu reaksi yang dapat diterjadi pada titrasipotensiometri adalah reaksi netralisasi, yaitu reaksi asam basa. Sedangkan titranpada umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat yaitu NaOH dan HCl.Pada percobaan di laboratorium, elektroda-elektroda acuan lebihpraktis digunakan untuk mengukur potensial-potensial dari setengah sel lainnya.Elektroda acuan yang umum digunakan adalah elektroda kalomel. Potensial dapatdiketahui melalui persamaan redoks sederhana yaitu:
Hg2+ 2e Hg
adapun lainnya yaitu uatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu,pertama (potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadappotensial dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkandalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion dapatdititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensialsel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen.Suatu petensial sel galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentudalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyakanalisis kimia (Basset, 1994).Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektrodaindikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurvatitrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadapvolume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam disekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi.Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocokuntuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh ataubila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titikakhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).Apakah konsentrasi H3PO4

dalam larutan dapat ditentukan denganmenggunakan metode potensiometri?


{Mei 29, 2012}   Gravimetri

Gravimetri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan. Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsure atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penetuan secara analisis gravimetri meliputi transformasi unsure atau radikal kesenyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Metode gravimetric memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu factor-faktor koreksi dapat digunakan (Khopkar,1990).

Zat ini mempunyai ion yang sejenis dengan endapan primernya.Postpresipitasi dan kopresipitasi merupakan dua penomena yang berbeda. Sebagai contoh pada postpresipitasi , semakin lama waktunya maka kontaminasi bertambah, sedangkan pada kopresipitasisebaliknya. Kontaminasi bertambah akibat pengadukan larutan hanya pada postpresipitasi tetapi tidak pada kopresipitasi (Khopkar, 1990).

Titrasi kompleksometri merupakan titrasi yang berdasarkan atas pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), misalnya

Ag+ + 2CN Ag(CN)2

Disamping titrasi kompleks biasa seperti diatas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA.

Rumus struktur dari EDTA adalah sebagai berikut :

HOOC – CH2 CH3COOH

N – CH2 – CH2 – N

HOOC – CH2 CH2COOH

Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut mengandung baik donor electron dari atom oksigen maupun donor dari atom nitrogen sehingga dapat menghasilkan khelat bercincin sampai dengan enam secara serempak (Vogel, 1990).

Sebagian besar logam dalam larutan dapat ditentukan secara titrasi dengan larutan baku pereaksi pengompleks seperti misalnya etilen diamin tetra asetat atau EDTA. Reaksi dengan nikel secara stoikiometri adalah 1: 1 dan berlangsung secara kuantitatif pada pH 7. Pereaksi EDTA umum dipakai dalam bentuk garamnya yang mudah larut dalam air. Indikator yang digunakan adalah EBT atau murexide mampu menghasilkan kompleks berwarna dengan ion logam tetapi berubah warna apabila logam-logam terkomplekskan sempurna oleh EDTA pada titik akhir titrasi, karena indicator-indikator ini juga peka terhadap perubahan pH, larutan yang akan dititrasi harus dibuffer ( harjadi, 1993 ).

Analisis gravimetri dapat berlangsung baik, jika persyaratan berikut dapat terpenuhi :

1. Komponen yang ditentukan harus dapat mengendap secara sempurna (sisa analit yang tertinggal dalam larutan harus cukup kecil, sehingga dapat diabaikan), endapan yang dihasilkan stabil dan sukar larut.

2. Endapan yang terbentuk harus dapat dipisahkan dengan mudah dari larutan ( dengan penyaringan).

3. Endapan yang ditimbang harus mempunyai susunan stoikiometrik tertentu (dapat diubah menjadi sistem senyawa tertentu) dan harus bersifat murni atau dapat dimurnikan lebih lanjut (Vogel, 1990).

Analisis kadar klor secara gravimetri didasarkan pada reaksi pengendapan, diikuti isolasi dan penimbangan endapan. Klor akan diendapkan oleh larutan perak nitrat (AgNO3) berlebih dalam suasana asam nitrat sebagai perak klorida.

Reaksi yang terjadi adalah :

Cl + Ag+ AgCl (putih)

Endapan yang terjadi diisolasi dan dikeringkan pada suhu 130 – 1500C dan ditimbang sebagai AgCl. Kesalahan dalam gravimetric dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Endapan yang tidak sempurna dari ion yang diinginkan dalam cuplikan.

2. Gagal memperoleh endapan murni dengan komposisi tertentu untuk penimbangan.

Faktor–faktor penyebabnya adalah :

1. Kopresipitasi dari ion-ion pengotor.

2. Postpresipitasi zat yang agak larut.

3. Kurang sempurna pencucian.

4. Kurang sempurna pemijaran.

5. Pemijaran berlebih sehingga sebagian endapan mengurai.

6. Reduksi dari karbon pada kertas saring.

7. Tidak sempurna pembakaran.

8. Penyerapan air atau karbondioksida oleh endapan



{Mei 29, 2012}   Kompleksometri

Titrasi kompleksometri atau sering disebut kelatometri merupakan salah satu cara titrasi dengan ketentuan titran dan titrat saling bereaksi membentuk senyawa kompleks.

titran: zat pembentuk kompleks (komplekson/ligan)

Teori kompleksometri didasarkan atas teori Lewis mengenai asam-basa dan teori Werner mengenai senyawa koordinasi.

Senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk sebagai hasil reaksi antara molekul-molekul atau ion-ion melalui ikatan kovalen koordinasi dan hasil reaksi itu dapat berupa molekul netral atau lebih sering dalam bentuk ion.

Pada senyawa tersebut ion Cu2+ berikatan dengan dua gugus molekul etilendiamin. Kedua atom N pada setiap molekul etilendiamin membentuk ikatan koordinasi yang mempunyai tangan kepiting dan bentuk seperti ini disebut dengan bentuk kelat.

EDTA mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:

1.Dengan berbagai ion logam dapat membentuk kompleks 1:1, sehingga reaksi berjalan satu tahap.

2.Tetapan kestabilan kompleks pada umumnya besar, sehingga sempurna.

3.Dapat bereaksi cepat dengan ion logam.
Reaksi Antara Komplekson III dengan Berbagai Logam
EDTA merupakan asam berbasa empat, untuk menyederhanakan ditulis H4Y, dan garam dinatriumnya ditulis Na2H2Y. Garam ini dalam larutan akan terionisasi menjadi Na+ dan H2Y2-.
  Logam valensi 2  H2Y2-   +   M2+   ®   MY2-   +   2H+

  Logam valensi 3  H2Y2-   +   M3+   ®   MY-    +   2H+

Logam valensi 4  H2Y2-    +   M4+   ®   MY     +   2H+

Logam valensi n  H2Y2-   +   Mn+   ®   MYn-4  +   2H+

1 mol logam bereaksi dg 1 mol EDTA selalu dilepaskan 2 mol H+. Sehingga konsentrasi ion hidrogen makin besar (pH makin kecil), untuk mengatasi agar pH tidak turun terus maka ditambahkan larutan buffer (biasanya buffer salmiak)
Titrasi Kompleksometri dengan EDTA
Indikator yg umum digunakan dalam titrasi dg EDTA adalah EBT (Erio Black T) karena sensitif terhadap perubahan konsentrasi logam.
Rumus EBT: NaH2C20H10O7N3S atau NaH2In dan dalam air terionisasi menjadi:

H2In-           HIn2-             In3-

pH=5,3-7,3     (biru)  pH=10,5-12,5  (orange-kuning)

Kompleks logam-EBT adalah kompleks 1:1.
Pada pH 7-11 warna indikator biru, tetapi apabila ditambahkan ion logam warnanya akan berubah menjadi merah anggur karena terbentuk kompleks logam-indikator.

M2+   + HIn2-  MIn-   +   H+

biru     merah anggur

Syarat indikator: stabilitas komplek logam-indikator harus lebih kecil dari stabilitas kompleks logam-EDTA
Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks, yaitu :
a.  Kemampuan mengkompleks logam-logam.
b.  Ciri-ciri khas ligan itu.
       Diantara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan kompleks dalam mana ligan itu terlibat, adalah :1.  kekuatan basa dari ligan itu,2.  sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan3.  efek-efek sterik (ruang).

Jenis-jenis titrasi EDTA, yaitu :

1.      Titrasi langsung

2.      Titrasi balik

3.      Titrasi penggantian atautitrasi substitusi

4.      Titrasi alkalimetri

5.      Macam-macam metode

Macam-macam indikator logam, yaitu diantaranya :

1.      Mureksida (C.I. 56085)

2.      Hitam Solokrom (Hitam Eriokrom T)

3.      Indikator Patton dan Reeder

4.      Biru Tua Solokrom atau Kalkon

5.      Kalmagit

6.      Kalsikrom (calcichrome)

7.      Hitam Sulfon F Permanen (C.I. 26990)

8.      Violet Katekol (Catechol Violet) atau Violet Pirokatekol (Pyrocatechol Violet)

9.      Merah Bromopirogalol (Bromopyrogalol Red)

10.  Jingga Xilenol (Xylenol Orange)

11.  komplekson Timolftalein (Timolftalein)

12.  Biru Metiltimol (Komplekson Biru Metiltimol)

13.  Zinkon (Zincon) atau 1-(2-hidroksi-5-sulfofenil)-3-fenil-5-(2-karboksifenil)-formazan

Apakah EDTA ?

EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam amino yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat (termasuk kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian dibuang melalui urine.

14.  Biru Variamina (C.I. 37255)

Kesalahan titrasi kompleksometri tergantung pada cara yang dipakai untuk mengetahui titik akhir. Pada prinsipnya ada dua cara, yaitu kelebihan titran yang pertama ditunjukkam atau berkurangnya konsentrasi komponen tertentu sampai batas yang ditentukan, dideteksi.

1.    Kesalahan titrasi dihitung dengan cara yang sama pada titrasi pengendapan.

2.    Digunakan senyawa yang membentuk senyawa kompleks yang berwarna tajam dengan logam yang ditetapkan. Warna ini hilang atau berubah sewaktu logam telah diikat menjadi kompleks yang lebih stabil. Misalnya EDTA.

Apakah EDTA ?

EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam amino yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat (termasuk kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian dibuang melalui urine.



{Mei 29, 2012}   Titrasi Redoks

Titrasi Redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate, penentuan besi(II) dengan serium(IV), dan sebagainya.

Karena melibatkan reaksi redoks maka pengetahuan tentang penyetaraan reaksi redoks memegang peran penting, selain itu pengetahuan tentang perhitungan sel volta, sifat oksidator dan reduktor juga sangat berperan. Dengan pengetahuan yang cukup baik mengenai semua itu maka perhitungan stoikiometri titrasi redoks menjadi jauh lebih mudah.

Titik akhir titrasi dalam titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi antara potensial larutan dengan volume titrant, atau dapat juga menggunakan indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indicator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.

Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin.

Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri, iodometri, permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran  penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I2 yang dititrasi dengan tiosulfat), dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan nitrit.

adapun pengertain lain ialah

Reduksi–oksidasi adalah proses perpindahan elektron dari suatu oksidator ke reduktor. Reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi terjadinya penurunan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi oksidasi adalah pelepasan elektron atau reaksi terjadinya kenaikan bilangan oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi penerimaan elektron dan pelepasan elektron atau reaksi penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi. Reaksi redoks secara umum dapat dituliskan sebagai berikut :

Ared + Boks Aoks + Bred

Jika suatu logam dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung ion logam lain, ada kemungkinan terjadi reaksi redoks, misalnya:

Ni(s) + Cu2+(l) Ni2+ + Cu(s)

Artinya logam Ni dioksidasi menjadi Ni2+ dan Cu2+ di reduksi menjadi logam Cu.

Demikian pula peristiwa redoks tersebut terjadi pada logam lain seperti besi. Sepotong besi yang tertutup lapisan air yang mengandung oksigen akan mengalami korosi (Arsyad, 2001).

Dalam kehidupan sehari-hari korosi dikenal dengan besi berkarat yaitu terbentuk senyawa Fe2O3xH2O, dalam berbagai industri dibutuhkan cukup besar dana untuk mengatasi kerugian yang disebabkan oleh korosi. Proses korosi pada dasarnya merupakan proses elektrolisis yaitu reaksi antara logam dengan zat lain yang menyentuh permukaan sehingga membentuk oksida logam. Besi bertindak sebagai anoda, permukaan logam dioksidasi dengan reaksi berikut :

Fe Fe2+ + 2e

Dan reaksi yang terjadi pada karbon sebagai katoda yaitu :

½ O2 + H2O + 2e 2OH

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya korosi, salah satunya dengan menutup permukaan logam dengan zat lain agar tidak terjadi kontak langsung dengan lingkungan, seperti memberi cat, mengoleskan minyak atau oli, atau dengan cara melapisi logam dengan dengan logam lain yang lebih mudah teroksidasi, misalnya magnesium (Mg).Elektron yang dibutuhkan oleh oksigen diambil dari magnesium bukan dari logam yang dilindungi. Suatu proses reduksi dan oksidasi yang berlangsung secara spontan merupakan pengertian lain dari redoks. Dalam artian, selama berlangsungnya oksidasi, oksidatornya sendiri akan tereduksi pula. Begitu pula juga sebaliknya. Dengan demikian suatu proses oksidasi selalu disertai dengan proses reduksi dan sebaliknya. Redoks kadang-kadang juga sebagai perubahan kimia yang didalamnya terdapat peralihan elektron dari suatu proses atom atau molekul atau ion lain. Dalam proses-proses elektrokimia dalam sel-sel oksidasi (pada anoda) dan reduksi (pada katoda) juga terjadi.Sistem ini pun acap kali dikenal sebagai sistem redoks (Vogel, 1985).

Kafein merupakan alkaloid dengan penamaan kimia 1, 3,7-trimetil xanthina. Dalam aktivitasnya secara faal, kafein berfungsi sebagai stimulat/perangsang. Kadar kafein dalam daun teh labih besar daripada di dalam biji kopi. Kadar kafein di dalam teh adalah sebesar 2-4%, sedangkan di dalam biji kopi hanya mencapai 0,5% (Vogel, 1985).

Kafein terdapat pada teh, kopi, kola, mente dan coklat. Selain itu kafein juga dapat diperoleh dari sintesa kimia. Kadar kafein dalam teh lebih besar dari pada di dalam kopi.Kadar kafein di dalam teh 2-4%, sedangkan di dalam kopi hanya 0,5%. Kafein dapat bereaksi dengan iodium secara adisi, sehingga kadar kafein dapat diukur dengan larutan Iodium. Untuk reaksi adisi dengan kafein digunakan iodium berlebih, kelebihan iodium di analisa dengan titrasi redoks, yaitu penetapan kadar zat berdasarkan atas reaksi reduksi dan oksidasi (Syukri, 1999).

Iodium merupakan oksidator, sehingga untuk titrasi dibutuhkan reduktor untuk terjadinya reaksi redoks, misalnya Natrium Thiosulfat (Na2S2O3)

I2 + 2e 2I

2S2O32- S4O62- + 2e

 

I+ 2S2O32- 2I– + S4O62-

Untuk mengetahui kadar kafein, maka terlebih dahulu teh diekstraksi dengan alkohol.Kemudian larutan yang mengandung kafein ini ditambahkan larutan iodium yang telah diketahui volume dan konsentrasinya. Kelebihan iodium setelah terjadi reaksi adisi di titrasi dengan larutan natrium thiosulfat (Na2S2O3), sehingga iodium yang teradisi oleh kafein dapat dihitung.



Argentometri merupakan titrasi pengendapan sample yang dianalisis denganmenggunakan ion perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah ionhalida (Cl-, Br-, I-).(Khopkar,1990)Ada beberapa metode dalam titrasi argentometri yang dibedakan berdasarkan indikator yang digunakan pada penentuan titik akhir titrasi, antara lain :

  •  Metode Mohr Metode Mohr biasanya digunakan untuk mentirasi ion halida seperti NaCl, denganAgNO3 sebagai titran dan K2CrO4¬ sebagai indikator. Titik akhir titrasi ditandai denganadanya perubahan warna suspensi dari kuning menjadi kuning coklat. Perubahan warnatersebut terjadi karena timbulnya Ag2CrO4, saat hampir mencapai titik ekivalen, semuaion Cl- hampir berikatan menjadi AgCl.(Alexeyev,V,1969)Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran, sehinggaterbentuk endapan yang berwarna merah-bata, yang menunjukkan titik akhir karenawarnanya berbeda dari warna endapan analat dengan Ag+.Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi:Ag+(aq) + Cl-(aq) ↔ AgCl(s)↓Sedang pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi:2Ag+(aq) + CrO4(aq) ↔ Ag2CrO4(s)↓Pengaturan pH sangat perlu, agar tidak terlalu rendah ataupun tinggi. Bila terlalu tinggi,dapat terbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O sehingga titranterlalu banyak terpakai.2Ag+(aq) + 2OH-(aq) ↔ 2AgOH(s)↓ ↔ Ag2O(s)↓ + H2O(l)Bila pH terlalu rendah, ion CrO4- sebagian akan berubah menjadi Cr2O72- karena reaksi2H+(aq) + 2CrO42-(aq) ↔ Cr2O72- +H2O(l)Yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbul endapannya atausangat terlambat.Selama titrasi Mohr, larutan harus diaduk dengan baik. Bila tidak, maka secara lokal akanterjadi kelebihan titrant yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalentercapai, dan dioklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk kemudian; akibatnya ialah, bahwa titik akhir menjadi tidak tajam. b.
  • Metode Volhard :   Metode Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+(feriaulin) sebagai indikator. Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antaratitrant dan Ag, membentuk endapan putih.Ag+(aq) + SCN-(aq) ↔ AgSCN(s)↓ (putih)Sedikit kelebihan titrant kemudian bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleksyang sangat kuat warnanya (merah) Baca entri selengkapnya »


{April 2, 2012}   Titrasi Asam – Basa

Apa itu titrasi ??

Titrasi adalah pengukuran suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhkan untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan tertentu lainnya.

Titrasi asam basa adalah reaksi penetralan.

Jika larutan bakunya asam disebut asidimetri dan jika larutan bakunya basa disebut alkalimetri.

Titrasi asam – basa dibagi atas 5 jenis yaitu :

1. Asam kuat – Basa kuat

2. Asam kuat – Basa lemah

3. Asam lemah – Basa kuat

4. Asam kuat – Garam dari asam lemah

5. Basa kuat – Garam dari basa lemah Baca entri selengkapnya »



{Maret 21, 2012}   TITRASI

Mempelajari titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kimia dan bidang-bidang yang berhubungan dengannya. Titrasi sampai sekarang masih banyak dipakai di laboratorium industri disebabkan teknik ini cepat dan tidak membutuhkan banyak reagen.

Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif Baca entri selengkapnya »



et cetera
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai